Identitas Buku

Judul buku : Perjamuan Khong Guan

Pengarang : Joko Pinurbo

Penerbit. : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2020 cetakan pertama Januari 2020

Harga buku. : Fisik Rp68.000,-; Digital Rp64.900,-

Buku bersampul merah dengan gambar seorang ibu bersama dua anaknya di meja makan sekilas terlihat menyerupai kaleng biskuit legendaris Khong Guan. Bedanya, di meja makan tersebut mereka terlihat sedang menulis bersama. Dari judulnya, orang bisa menyimpulkan kalau buku ini terinspirasi dari biskuit legendaris tersebut. Tapi, apakah isinya juga sama?

Tentu tidak. Buku ini merupakan buku kumpulan puisi. Puisi dibagi dalam empat bab, di mana setiap bab atau bagiannya disebutkan dengan kata “Kaleng”, misalnya “Kaleng Satu”, “Kaleng Dua”, dan seterusnya. Mari kita “buka” satu per satu kalengnya.

Kaleng Satu

Puisi di kaleng pertama relatif pendek, tapi ada satu – dua puisi yang cukup panjang. Selain itu, ada juga puisi yang disusun satu kata per baris. Puisi – puisi di Kaleng Satu bersifat puisi kamar. Sajak – sajaknya sarat dengan kata kiasan. Isi puisi sendiri rata – rata menggambarkan kisah atau kejadian. sehari – hari, seperti rutinitas atau kejadian kecil yang biasa terjadi pada setiap orang. Namun, terdapat juga puisi yang bunyinya cukup menggelitik dan menyinggung fenomena di zaman modern ini. Misalnya tentang seorang manusia di zaman sekarang ini lebih sibuk dengan ponselnya untuk berkontak dengan orang – orang, ketika ponselnya itu rusak dan semua kontak hilang, satu – satunya yang dapat ia hubungi adalah “kontak” Tuhan, yang selama ini tidak pernah dicarinya. Contoh lainnya puisi yang menyinggung tentang banyak orang yang memanfaatkan teknologi untuk selfie berulang kali. Hal yang unik adalah tokoh “aku” kadang menempatkan diri sebagai orang, kadang sebagai benda.

Kaleng Dua

Bentuk puisi di Kaleng Dua tidak berbeda jauh dengan Kaleng Satu, relatif singkat dan sarat akan kata – kata kiasan. Meskipun begitu, beberapa kata atau kalimat mengandung makna yang dalam dan sangat mengena bagi pembaca karena lekat dengan kehidupan sehari – hari masa kini.

Kaleng Tiga

Pada Kaleng Tiga kumpulan puisi menggunakan subjek bernama “Minnah”. Minnah diceritakan menyukai buku. Puisi – puisi lainnya menjelaskan kehidupan sehari – hari Minnah. Dalam puisi tersebut masih mengandung kata – kata kiasan yang ringan dan mengena.

Kaleng Empat

Pada Kaleng Keempat, barulah tampil puisi sesuai judul buku “Perjamuan Khong Guan”. Semua puisi secara seragam menyelipkan kata “Khong Guan” pada judul maupun isinya. Sebagian besar puisi menggunakan kaleng Khong Guan sebagai objek pembahasannya. Selain itu, juga menggunakan gambar khas pada kaleng Khong Guan yang terdiri dari seorang ibu bersama dua anak sebagai subjek, ataupun suasana pada gambar tersebut sebagai latarnya. Kadang juga membahas tokoh “ayah” yang tidak tampak pada gambar di kaleng tersebut. Sedangkan isi puisi pada bab ini memberi kesan yang lebih menarik, dengan tetap menyisipkan kata – kata kiasan, juga pesan – pesan yang mengena bagi pembaca.

Secara keseluruhan, kumpulan puisi dalam “Perjamuan Khong Guan” sangat menarik untuk dibaca karena isinya yang ringkas, padat, dan sarat makna. Meskipun terdapat bahasa dan kata kiasan yang umumnya sulit dipahami, tapi buku “Perjamuan Khong Guan” ini menyediakan kiasan yang mudah dimengerti bahkan untuk pembaca yang bukan penggemar puisi seperti saya ini sehingga maknanya sampai dan mengena. Menurut saya buku ini akan sangat digemari khususnya oleh para penggemar puisi.

Buku ini tersedia dalam bentuk fisik dan digital di website maupun aplikasi Gramedia. Silahkan klik link di bawah untuk membelinya.

Buku fisik tersedia di Gramedia.com dan buku digital (ebook) ebooks.gramedia.com. Selamat menikmati bacaan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *