Ini adalah pengalaman tak terlupakan. Sungguh, barangkali bagi para pembaca ternyata kisah ini biasa saja, tapi bagi kami berdua (saya dan mama saya) pengalaman ini bukan cuma berguna, memberi pelajaran berharga, tapi juga menyatakan kuasa kebaikan Tuhan untuk kami. Kalau tanpa pengalaman ini juga, mungkin kami ga semakin pintar jadi turis di negeri orang.

Selesai makan malam hari pertama di Hong Kong (tepatnya hari kedua dari jadwal tur), kami ke hotel. Kami menginap di Kowloon, dekat dengan Ladies Market. Setelah menaruh barang – barang kami segera keluar lagi, cepat – cepat mau ke Ladies Market. Saya dan mama saya pergi ke Ladies Market dengan menumpang taksi bersama beberapa peserta lain. Sebenarnya, untuk ke Ladies Market dari hotel bisa ditempuh jalan kaki sekitar 10 – 15 menit kata si resepsionis hotel. Tapi karena baru pertama ke sana dan sudah gelap, kami memutuskan naik taksi saja. Sebelum berangkat, sambil menunggu peserta lain yang mau ikut, saya sempat melakukan hobi saya, mengambil kartu nama hotel.  Ini adalah kebiasaan setiap saya menginap di suatu tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Bukan cuma hotel sebenarnya, di toko – toko atau tempat wisata yang jarang saya datangi, biasanya saya koleksi kartu namanya. Mama saya kadang memprotes “Ngapain sih nanti jadi sampah aja”.

Ketika saya hendak mengambil kartu nama itu, mama saya bertanya ke resepsionis di mana Ladies Market. Dengan senyum yang ramah, si resepsionis muda yang cukup tampan itu mengambil sebuah kartu nama hotel dan membaliknya, disitu ada peta buta jalanan – jalanan di sekitar hotel. Ia memberi arahan sambil menandai peta itu dengan tinta merah. Setelah itu, kartu itu saya ambil dan saya simpan.

Sampai di Ladies Market, kami berpencar dengan peserta lain, jadi saya melanjutkan keliling hanya berdua dengan mama saya. Rasanya tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai kegiatan belanja kami, intinya kami tidak bisa menawar sepintar dan selihai orang – orang yang sering memberikan tips cara menawar di Ladies Market yang sempat kami baca di blog. Tapi, kami berhasil membeli sebuah tas dan beberapa kaos dengan harga yang menurut kami pantaslah. 

Bencana itu terjadi ketika kami akan pulang. Kami baru selesai sekitar jam sepuluh lewat, karena di sana masih ramai dan lampu terang – benderang meskipun outdoor. Awalnya, kami berani berpencar dengan peserta tur lain karena kami pikir gampanglah nanti kalau pulang bisa naik taksi lagi, tinggal menyebutkan nama hotel dan lokasinya ke supir. Ternyata, taksi yang kami berhasil hentikan semuanya tidak mau mengantar kami ke lokasi hotel. Dengan samar – samar saya mengerti kalau supir – supir itu bilang mereka mau kembali ke Hong Kong. 

Mendapat penolakan beberapa kali itu, akhirnya kami memutuskan berjalan kaki pulang ke hotel. Karena memiliki peta di kartu nama hotel, kami merasa percaya diri. Langkah pertama adalah memastikan posisi kami saat itu tepatnya di mana. Hal itu mudah, tapi ada kesulitan berikutnya. Kami memperhatikan di peta, seharusnya ada beberapa akses jalan yang bisa ditempuh untuk ke hotel. Tapi, tidak semudah yang kami bayangkan. Di Hong Kong, gedung – gedung bertingkat sangat tinggi, dan letaknya berdekatan. Juga banyak jalan – jalan bercabang. Sulit untuk melihat jauh ke depan, apakah gang ini tembus ke mana atau ke mana. Karena takut salah langkah, kami mencari orang yang bisa ditanyai. Mungkin para pembaca sudah tahu atau pernah mendengar, penduduk lokal di sana tidak begitu senang kalau ditanya dengan bahasa Inggris. Dan itu nyata! Beberapa orang yang kami tanyai tidak bersedia menjawab, bahkan menghindar sebelum kami sempat mengucapkan sepatah kata. Mereka tampak enggan, bahkan beberapa seperti takut dengan kami. Percobaan berikutnya, saya berusaha bertanya menggunakan bahasa Mandarin. Tapi, itu juga tidak mempan. Karena bahasa Mandarin juga bukan bahasa sehari – hari mereka. Beruntung, kami bertemu dengan dua orang polisi. Sepertinya polisi itu hendak pulang usai bertugas. Polisi muda itu dengan ramah memberi petunjuk pada kami. Akhirnya, kami berjalan sesuai arahan polisi itu.

Rintangan belum selesai sampai di situ. Jalan yang kami telusuri semakin lama semakin sepi dan gelap, karena merupakan gang kecil. Setelah berjalan lurus, kami menjumpai jalan bercabang. . Di sana tidak semua gang ada keterangan namanya. Kalau memperhatikan peta di kartu kecil itu, hanya jalan – jalan utama yang ada namanya, sedangkan gang – gang kecil tidak ada. Jadi kami ragu di gang yang mana kami sebenarnya. Kalau lihat di peta, seharusnya masuk cabang manapun nanti juga tembus ke jalan yang sama. Jadi dengan percaya diri kami berbelok ke salah satu gang. Ternyata, gang itu buntu, tidak sesuai dengan yang ada di peta. Kami mulai panik.

Tidak terasa sudah setengah jam lebih kami berjalan kaki di malam yang dingin, dengan sepatu kets tipis, jaket selapis, sambil menyeret sebuah tas koper yang baru kami beli. Saya agak khawatir kalau kami akan dikenali sebagai turis yang nyasar lalu dijahati orang. Udara dingin akan semakin terasa kalau diam saja, jadi kami jalan terus. Entah menyusuri gang yang mana. Mama saya masih yakin kalau gang – gang itu akan nyambung ke jalan yang sama, jadi kami mencoba memasuki satu per satu gang. Kalau buntu, kami berbalik dan mencoba gang lainnya. Gang – gang itu sangat sepi, tapi saya merasa itu lebih baik. Tapi, di suatu gang kami melewati sebuat tempat makan kecil, bertenda, mungkin seperti warung pinggiran. Menurut pengalaman yang biasa saya lihat di drama – drama, tempat itu biasanya menyediakan minuman keras. Meskipun tidak begitu ramai, tapi ada beberapa bapak – bapak yang makan di situ, mengobrol dengan keras. Kami jadi takut, pelan – pelan kami melewati tempat itu agar tidak menarik perhatian. Saya sampai menggendong tas koper saya supaya tidak menimbulkan bunyi. 

Saya rasa sudah satu jam paling tidak, kami berjalan tanpa jelas arahnya. Saya merasakan kaki saya beku, kaos kaki saya lembap. Saya melirik kaki mama saya, ya ampun, ia hanya pakai sepatu sandal Crocs. Pasti lebih menderita daripada saya. Sempat terpikir untuk menelpon hotel atau pemandu tur, tapi itu tidak bisa kami lakukan. Itulah kebodohan kami. Karena kami pikir bisa memakai wifi di hotel atau tempat yang kami kunjungi, saya dan mama saya tidak melakukan registrasi nomor sehingga kami tidak bisa menghubungi siapapun baik lokal atau interlokal. Saya sempat membayangkan ketakutan kalau kami nyasar dan tidak bisa kembali, kami tidak bisa ke mana – mana. Barang – barang kami ada di hotel, tapi paspor selalu kami bawa. Mama saya, setengah bercanda bilang mau tidak mau kembali  ke bandara.  Saya menanggapi mama saya dengan nada kesal karena lelah. Di satu sisi tidak tega, di satu sisi semakin panik karena tidak kunjung kelihatan jalan yang kami tuju. 

Satu – satunya yang menghibur saya adalah pikiran kalau setelah sampai saya akan bisa mandi air panas di hotel dan makan mie gelas sambil nonton TV. Sedangkan mama saya tetap pada keyakinannya kalau di Hong Kong itu harusnya masih banyak orang yang lalu lalang walaupun sudah hampir tengah malam. Benar saja, kami bertemu dengan sepasang suami istri, dan puji Tuhan, mereka bisa dan mau berbahasa Inggris. Mereka tidak begitu familiar dengan hotel tempat kami menginap (aneh, padahal hotel itu cukup besar berada di ujung jalan dan hotel berbintang), tapi mereka mengenali nama jalannya. Dengan senang kami mengikuti arahan mereka. Tidak lama, kami bertemu lagi dengan segerombolan muda mudi, sepertinya anak kuliahan. Untuk memastikan, kami bertanya lagi. Mereka juga fasih bahasa Inggris, dan mengenali jalan itu. Ternyata tidak begitu jauh lagi.

Akhirnya, kami sampai di hotel !! Dengan sukacita kami bergegas ke kamar dan menikmati air hangat, terutama untuk kaki – kaki kami yang beku. Ternyata kami berjalan tidak sampai lebih dari satu jam, masih jam sebelas lewat waktu itu. Tapi, luar biasa capeknya, dingin dan dilanda panik, pikiran kami lebih lelah daripada tubuh kami. Setelah memaksakan diri menikmati mie gelas sebagai perayaan padahal sudah mengantuk, kami pun tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *