Cerita ini sebenarnya masih ada kaitannya dengan tur Hong Kong – Shenzhen. Ketika di Shenzhen, rombongan kami berkunjung di salah satu Chinese Herbal Medicine Center. Ternyata, kalau mengikuti tur ke negara Tiongkok dan sekitarnya, ada beberapa tempat yang wajib didatangi oleh turis asing. Kata ‘wajib’ yang dimaksud bukan sebagai rekomendasi  tempat bagus atau unik, tapi benar – benar diwajibkan oleh pemerintah setempat agar dikunjungi oleh turis asing yang memakai jasa travel. Salah satunya adalah museum giok dan Chinese Herbal Medicine Center ini. Cara ini bagus juga untuk ditiru pemerintah Indonesia untuk meningkatkan potensi kunjungan turis ke tempat – tempat wisata atau budaya khas Indonesia, seperti museum nasional atau tempat – tempat pembuatan batik misalnya.

Di Chinese Herbal Medicine Center, awalnya kami berkenalan dengan seorang profesor yang ahli obat – obatan herbal. Beliau memberikan penjelasan singkat bagaimana menjalani kehidupan sehari – hari yang baik dan tepat, misalnya jam berapa saja tepatnya untuk minum kopi, makanan apa yang baik untuk organ tubuh tertentu, porsi yang tepat untuk makanan ini dan itu, dan sebagainya. Pokoknya info – info sederhana yang penting dan sangat berguna untuk kehidupan kita. Sayangnya saya tidak merekam penjelasan beliau, jadi hanya ingat sekilas – sekilas. Misalnya, ternyata lari pagi itu tidak baik, karena sistem pencernaan tubuh kita baru selesai bekerja, jadi tidak boleh kerja berat. Baiknya adalah jalan pagi itupun idealnya maksimal 10 menit saja. 

Setelah terpukau dengan penjelasan beliau, masing – masing peserta tur diajak untuk berkonsultasi dengan dokter, gratis. Konsultasinya memang gratis, tapi…..hmm.

Jadi, saya dan mama saya mengikuti salah satu dokter, masuk ke sebuah ruangan kecil. Ya sama seperti di klinik kecil, hanya saja cuma ada meja dan kursi, tidak ada tempat tidur. Masing – masing dokter didampingi oleh seorang penerjemah. Saya tidak tahu bagaimana keadaan di bilik – bilik peserta yang lain, tapi inilah pengalaman yang saya alami. 

Dokter yang menangani kami seorang perempuan, masih cukup muda mungkin 30-an usianya. Wajahnya terlihat ramah. Sedangkan si penerjemah yang mendampingi dokter kami juga seorang ibu, bertubuh kecil usianya mungkin penghujung 40-an. 

Pertama, dokter memeriksa mama saya. Pemeriksaan sederhana, ia melihat telapak kanan dan kiri, memeriksa mulut dan lidah (saya rasa), dan mata. Lalu, dokter tersebut sudah dapat menyimpulkan kalau mama saya ada kemungkinan mengalami suatu penyakit (saya tidak begitu ingat). Dengan bantuan penerjemah, dokter menjelaskan kalau mama saya mengalami gejala gejala tertentu sehingga berisiko kena suatu penyakit. Untuk mengatasi gejala tersebut, dokter itu menawarkan obatnya. Dia menuliskan sebuah resep obat di suatu kertas. Dokter itu mengatakannya dengan ramah, meskipun ia memasang wajah khawatir. Nah, disinilah penerjemah itu beraksi, bukan sekadar untuk menerjemahkan perkataan dokter, tapi juga merayu mama saya supaya mau beli obat. Ia berkata kalau sayang sekali jika mama saya tidak beli obatnya, sebaiknya disembuhkan mumpung ada waktu. Lalu ia bilang mumpung ada di sini, karena obat tersebut tidak dijual di tempat lain karena merupakan obat herbal yang langka, dan kalaupun ada di tempat lain harganya pasti jauh lebih mahal. Kami sempat bingung, karena gejala yang disebutkan memang mama saya rasakan, dan kami juga punya pemikiran kalau disitu memang harga pasti lebih murah. Meskipun sebenarnya masih sangat mahal bagi kami. Akhirnya, mama saya merelakan dollarnya untuk membeli obat herbal tersebut.

Kedua, saya yang diperiksa. Metodenya sama dengan mama saya, saya diperiksa telapak tangan, mulut, dan mata. Lagi – lagi, si dokter memasang wajah khawatir selesai memeriksa saya. Ia menyebutkan gejala – gejala yang saya alami saat menstruasi (dan benar), dan menyebutkan kemungkinan bisa tumbuh kista di rahim. Dokter itu meyakinkan karena ia menjelaskan dari mana gejala itu bisa terlihat, yaitu dari telapak tangan saya yang terlihat jelas pembuluh darah birunya, selain itu pasti sering merasakan dingin. Nah, rahim saya itu juga dingin sehingga saya sering merasakan sakit yang hebat saat menstruasi. Saya merasa itu benar, karena saya memang merasa sakit baru akhir – akhir ini, padahal dulu saat pertama sampai masa sekolah tidak pernah sakit.

Dokter itu menyebutkan saya harus pantang makan es krim (menyedihkan) dan timun. Selain itu, pastinya, kami ditawari suatu obat. Bahkan, kali ini obat itu perlu dikonsumsi minimal 3 bulan, sedangkan untuk satu bulannya perlu 3 botol. Jadi total yang dibeli harus 6 botol. Satu botolnya saja sudah mahal. Kami sangat bingung, karena gejala yang disebutkan sungguh benar. Dokter itu juga bilang kalau saya masih muda, sayang sekali kalau tidak segera diatasi. Penerjemah itu juga begitu gencar merayu, melebihi dokter itu sendiri, bahkan cenderung menakuti mama saya. Sedangkan uang yang mama saya bawa tidak banyak, itupun tadi membayar menggunakan dollar yang sebetulnya untuk cadangan saja. Mama saya sudah terlanjur beli obat yang sebelumnya tadi. 

Aneh sebenarnya, kami diberikan resep yang ditulis dengan aksara Cina, tapi tidak diperlihatkan tampang obatnya seperti apa. Kami baru bisa lihat saat jadi beli dan sudah bayar. Ohya, semua obat yang ditawarkan adalah obat herbal atau tradisional. Sebenarnya tidak pas disebut obat juga, tapi lebih seperti vitamin atau suplemen.

Karena saya juga merasa khawatir dengan kondisi saya sendiri tapi tidak tega menghabiskan uang mama saya, akhirnya saya menyarankan sebaiknya beli tapi hanya untuk 1 bulan. Kami mau lihat obatnya terbuat dari apa, lalu mencari tahu sendiri di Indonesia. Jadi, kami membeli obat tersebut. Setelah itu, kami bergegas keluar ruangan. Ternyata, nasib demikian tidak hanya kami yang mengalami, tapi juga peserta tur lain. Mereka keluar dengan wajah lesu, seperti habis tertipu. Beberapa malah didiagnosis penyakit yang lebih seram daripada kami. Tapi, peserta yang sudah tahu, tidak tergoda untuk membeli obat tersebut. Mama saya jadi merasa semakin down, semakin menyesal sudah mengeluarkan uang begitu mahal untuk membeli obat. Ini sepertinya memang sebuah taktik. Jadi, dokter tidak menjelaskan obat seperti apa yang perlu dikonsumsi untuk menangani penyakit yang didiagnosa, tapi langsung memberikan resep obat merk apa yang perlu dibeli. Yah, untuk menghibur diri, kami justru “menghabiskan uang lagi” dengan membeli oleh – oleh makanan ringan yang dijual disitu. Harganya tidak begitu mahal, mama saya bercanda “Coba tidak beli obat, bisa borong lebih banyak.” 😀
Nah, untuk para perempuan yang mengalami gejala seperti saya, saya mau membagi resep obat apa sih yang saya beli itu? FYI, obat tersebut memang mengandung bahan yang manjur, sungguh sangat manjur untuk gejala yang saya alami. Lebih jelasnya ada di artikel berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *