Sebagai posting pertama di blog ini, saya mau bercerita tentang pengalaman jalan – jalan saya ke Hong Kong. Kenapa mau saya ceritakan, karena pengalaman itu bukan cuma ga mungkin saya lupakan seumur hidup, tapi juga menjadi pelajaran hidup yang amat berharga. Barangkali, pengalaman saya itu juga bisa jadi inspirasi kecil – kecilan buat para pembaca sekalian. Karena itu, saya mau ceritakan se-detail – detailnya sesuai ingatan saya, mungkin akan sangat panjang dan bahkan bersambung.

Saya, bersama mama saya, ke Hong Kong waktu itu tanggal 7 Februari 2015. Sebenarnya bukan cuma ke Hong Kong, tapi diselipin dua hari ke Shenzhen. Kami berdua ikut rombongan tour, yang isinya pegawai kantoran. Ya, jujur aja perjalanan ini adalah ‘hadiah’ dari sebuah vendor untuk beberapa perusahaan, termasuk perusahaan tempat mama saya bekerja. Jadwal tur ini kurang lebih begini: malam jam 23.30 kami naik pesawat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, tiba di Hong Kong subuh jam 6.30 waktu setempat. Jadi sudah dihitung dua hari. Lalu menginap semalam di Hong Kong, tepatnya di Kowloon. Besoknya jalan ke Shenzhen, menginap semalam, lalu kembali ke Hongkong langsung balik ke Jakarta. Jadi walaupun jadwal tur 4 hari yaitu tanggal 7 – 10 Februari, total bermalam di hotel cuma 2 hari, yaitu semalam di Hong Kong dan semalam di Shenzhen. Menurut saya sih, rugi juga ya, hhehe.

Nah, waktu itu lagi penghujung musim dingin. Sudah ga ketemu salju  sih, tapi dinginnya masih menusuk banget. Meskipun suhu terendah yang saya rasakan cuma sampai 7 derajat, tapi bagi saya yang orang Indonesia tinggal di Tangerang itu udah dingin banget. Sebenarnya jadi sangat dingin karena angin di Hong Kong waktu itu lagi kencang – kencangnya. 

Kami tiba di Hong Kong waktu itu jam 6.30 waktu setempat. Begitu sampai, langsung sarapan dimsum. Sebenarnya kurang pas, soalnya waktu di pesawat kami sudah disuguhkan makan berat di sekitar jam 3.30 WIB. Jadi selang waktu antara makan di pesawat dan sarapan dimsum di Hong Kong itu dekat banget, perut belum kosong – kosong amat. Sayang sekali, padahal menu dimsum di sana begitu banyak dan enak – enak kelihatannya. Juga ada bubur yang bagi saya enak, walaupun peserta tur lainnya kelihatan ga begitu doyan. Memang sih, bubur itu agak tawar, beda sama bubur khas Indonesia yang beragam rasa. Di setiap meja, disediakan sepanci penuh (soalnya kalau dibilang mangkuk kesannya kecil) bubur itu. Saya perhatikan peserta tur tidak makan bubur itu, entah karena kurang doyan atau masih kenyang. Saya berpikir sisa bubur itu diapakan ya? Sayang banget kalo ga kemakan lalu dibuang.

Setelah makan bubur, kami di bawa ke Avenue of The Stars. Oh ya, selain ada pemandu dari Indonesia, kami juga dipandu oleh pemandu lokal yang fasih berbahasa Indonesia. Bukan karena ia pernah tinggal lama di Indonesia, tapi memang banyak pemandu tur di sana yang belajar bahasa Indonesia soalnya turis dari Indonesia banyak banget. Bukan cuma pemandu tur, pelayan – pelayan toko atau museum juga banyak yang fasih berbahasa Indonesia. 

Avenue of The Stars itu mirip Walk of Fame di Hollywood, tapi versi Asia. Selain banyak patung – patung figur artis – artis terkenal, yang menarik bagi saya adalah pemandangannya. Bukan gunung atau persawahan hijau yang menyejukan mata yang sering kita lihat di Puncak atau Bandung yang terlihat di sana. Melainkan gedung – gedung tinggi, menggambarkan kota yang penuh sesak di seberang sungai. Meskipun pemandangannya seperti itu, tapi tetap menarik untuk dipandang. Ya, seperti memperlihatkan kemegahan Hong Kong. Nah, angin di sini sangat sangaaat kencang. Apalagi waktu kami ke sana masih termasuk pagi hari. Bagus juga sih untuk yang mau berfoto dengan efek rambut – rambut terbang :D. 

Di sini ada pengalaman yang agak lucu. Waktu saya dan mama saya mau berfoto menggunakan tongsis, kami jadi pusat perhatian turis – turis (atau mungkin warga lokal) bule. Soalnya waktu itu tongsis memang belum begitu mendunia, baru di Indonesia aja yang banyak pakai dan modelnya juga masih yang jadul banget. Bule – bule itu juga ga sungkan – sungkan untuk senyum – senyum bahkan terkekeh memperhatikan kami. Tapi, jelas kelihatan bukan mengejek, melainkan kagum. Jadi ya kami senyumin balik sambil dengan bangga lanjut selfie pakai tongsis.

Selanjutnya kami singgah di Museum Giok. Hm, sebenarnya lebih tepat disebut museum merangkap toko, karena selain dijelaskan sedikit tentang giok, kami juga ditawari untuk beli. Nah waktu pertama masuk ke museum (toko) itu, saat itulah saya pertama kali terkejut dengan pegawai – pegawai yang begitu fasih menyapa kami dengan Bahasa Indonesia. Bukan hanya untuk menyapa ‘Selamat pagi’ dan ‘Selamat datang’ juga ‘Terima kasih’, tapi beberapa pegawai benar – benar lancar berbahasa Indonesia. Salah satunya ketika saya memperhatikan ada seorang peserta tur kami yang begitu heboh melakukan transaksi tawar menawar dengan salah satu pegawai senior (dilihat dari wajahnya) untuk membeli sebuah perhiasan giok. Katanya sih, perhiasan giok di sana lebih murah jauh dibanding di Indonesia. Tapi, untuk asli atau tidaknya, saya agak ragu. Mungkin ada yang asli, mungkin juga ada yang asli tapi kualitasnya belum tentu sebagus yang dipromosikan. Memang mereka juga menyertakan sertifikat keaslian giok. Tapi, yah, pokoknya keraguan itu berhasil membatalkan niat mama saya untuk ikutan beli di sana. Sedangkan, peserta tur kami yang sudah melalui diskusi tawar menawar seru dengan pegawai toko itu, akhirnya membeli juga. Mungkin kalah berdebat dengan si pegawai yang Bahasa Indonesianya begitu fasih ditambah kemampuan merayu khas enci – enci di Glodok.

Karena lelah melihat – lihat perhiasan giok yang cantik – cantik tapi gak bakal kami beli, saya dan mama saya memutuskan duduk di pojokan. Bukan sembarang pojokan, di situ ada ruangan kecil yang menyediakan teh leci. Teh itu dibuat langsung oleh seorang pegawai wanita nan cantik di depan kami. Sambil menyeduh teh – teh itu, ia fasih memberi penjelasan mengenai khasiat teh (yang ini dengan Bahasa Inggris) dengan cara yang menarik. Sesekali ia tersenyum ketika kami bercanda dengan Bahasa Indonesia yang tidak ia mengerti. Teh diseduh dengan peralatan  teh tradisional seperti poci – poci dan gelas – gelas kecil, dan ada semacam alat pembakaran kecil untuk memasak air panasnya. Teh itu lumayan enak dan wangi, dan katanya sih, sangat bagus untuk kesehatan. Nah, kalau yang ini bolehlah kami beli beberapa untuk oleh – oleh. Tidak semahal giok dan paling tidak bisa untuk menjamu tamu atau menemani sarapan pagi.

Malam harinya, selesai makan malam di sebuah restoran kami menuju hotel untuk menginap. Di sini saya mau berbagi tips, berdasarkan pengalaman memalukan yang saya alami. Saya tidak akan membeberkan pengalaman apa itu karena sungguh – sungguh memalukan, tapi karena ternyata bukan saya satu – satunya yang mengalami hal sama jadi saya mau tuliskan sedikit. Tipsnya adalah, di setiap ada kesempatan, entah ketika di restoran atau mengunjungi suatu tempat wisata, usahakan ke toilet sebelum perjalanan dilanjutkan. Terutama ketika udara sedang sangat dingin dan berangin di Hong Kong, pasti keinginan untuk buang air kecil semakin sering. Soalnya kalau sudah melanjutkan perjalanan, tidak ada kesempatan lagi, karena bis atau mobil tidak bisa berhenti di sembarang tempat. Tidak seperti di Indonesia yang bisa mampir di minimarket atau pom bensin. Di sana tempat – tempat seperti itu tidak ada kalau kendaraan sudah masuk jalan besar atau jalan layang. Jalan tol di sana juga tidak seperti di Indonesia yang banyak rest area. Pokoknya, jangan mengharapkan akan ada tempat – tempat seperti itu yang bisa ditumpangi untuk ke toilet. Jangan lupa juga untuk tetap minum air putih yang banyak, soalnya biasanya karena udara dingin orang cenderung tidak minum, entah karena merasa tidak haus atau takut buang air kecil. Padahal, saat dingin seperti itu lebih besar risikonya terkena dehidrasi dan kering tenggorokan. 

To be continued….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *